PANCASILA

Posted: October 18, 2010 in Assignments

 

 

Bangsa dan rakyat Indonesia kini seakan-akan tidak mengenal dirinya sendiri sehingga budaya atau nilai-nilai dari luar baik yang sesuai maupun tidak sesuai terserap bulat-bulat. Nilai-nilai yang datang dari luar serta-merta dinilai bagus, sedangkan nilai-nilai luhur bangsa yang telah tertanam sejak lama dalam hati sanubari rakyat dinilai usang. Lihat saja sistem demokrasi yang kini tengah berkembang di Tanah Air yang mengarah kepada faham liberalisme. Padahal, negara Indonesia seperti ditegaskan dalam pidato Bung Karno di depan Sidang Umum PBB menganut faham demokrasi Pancasila yang berasaskan gotong royong, kekeluargaan, serta musyawarah dan mufakat. Sistem politik yang berkembang saat ini sangat gandrung dengan faham liberalisme dan semakin menjauh dari sistem politik berdasarkan Pancasila yang seharusnya dibangun dan diwujudkan rakyat dan bangsa Indonesia. Terlihat jelas betapa demokrasi diartikan sebagai kebebasan tanpa batas. Hak asasi manusia (HAM) dengan keliru diterjemahkan dengan boleh berbuat semaunya dan tak peduli apakah merugikan atau mengganggu hak orang lain. Budaya dari luar, khususnya faham liberalisme, telah merubah sudut pandang dan jati diri bangsa dan rakyat Indonesia. Pergeseran nilai dan tata hidup yang serba liberal memaksa bangsa dan rakyat Indonesia hidup dalam ketidakpastian. Akibatnya, seperti terlihat saat ini, konstelasi politik nasional serba tidak jelas. Para elite politik tampak hanya memikirkan kepentingan dirinya dan kelompoknya semata.
Dalam kondisi seperti itu sekali lagi peran Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara memegang peranan penting. Pancasila akan menilai nilai-nilai mana saja yang bisa diserap untuk disesuaikan dengan nilai-nilai Pancasila sendiri. Dengan begitu, nilai-nilai baru yang berkembang nantinya tetap berada di atas kepribadian bangsa Indonesia. Pasalnya, setiap bangsa di dunia sangat memerlukan pandangan hidup agar mampu berdiri kokoh dan mengetahui dengan jelas arah dan tujuan yang hendak dicapai. Dengan pandangan hidup, suatu bangsa mempunyai pedoman dalam memandang setiap persoalan yang dihadapi serta mencari solusi dari persoalan tersebut.

Pada akhirnya pandangan hidup bisa diterjemahkan sebagai sebuah kristalisasi dari nilai-nilai yang dimiliki suatu bangsa yang diyakini kebenarannya serta menimbulkan tekad bagi bangsa yang bersangkutan untuk mewujudkannya. Karena itu, dalam pergaulan kehidupan berbangsa dan bernegara, bangsa Indonesia tidak bisa begitu saja mencontoh atau meniru model yang dilakukan bangsa lain, tanpa menyesuaikan dengan pandangan hidup dan kebutuhan bangsa Indonesia sendiri.
Bangsa dan rakyat Indonesia sangat patut bersyukur bahwa founding fathers telah merumuskan dengan jelas pandangan hidup bagi bangsa dan rakyat Indonesia yang dikenal dengan nama Pancasila. Bahwa Pancasila telah dirumuskan sebagai jiwa seluruh rakyat Indonesia, kepribadian bangsa Indonesia, pandangan hidup bangsa Indonesia, dan dasar negara Indonesia. Juga sekaligus menjadi tujuan hidup bangsa Indonesia. Karena itu, Pancasila tak bisa terlepas dari tata kehidupan rakyat sehari-hari mengingat Pancasila merupakan pandangan hidup, kesadaran, dan cita-cita moral yang meliputi seluruh jiwa dan watak yang telah berurat-berakar dalam kebudayaan bangsa Indonesia. Kebudayaan bangsa Indonesia sejak dahulu kala telah menegaskan bahwa hidup dan kehidupan manusia bisa mencapai kebahagiaan jika dikembangkan secara selaras dan seimbang baik dalam pergaulan antar anggota masyarakat selaku pribadi, hubungan manusia dengan komunitas, hubungan dengan alam, maupun hubungan dengan Sang Khalik.
Lihatlah ke belakang dari diperkenalkannya istilah Pancasila oleh empu Prapanca yang dibarengkan dengan pantangan-pantangan dalam agama Budha (sebagai agama mayoritas pada saat itu). Kelima pantangan (dilarang membunuh, mencuri, berzina, berdusta, dan mabuk) tersebut menyiratkan kehidupan budaya asli Indonesia. Semua pantangan tersebut menggambarkan bahwa masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu memiliki budaya yang baik dan bermoral. Sebelum ada Pancasila (sebagai dasar negara), unsur-unsur Pancasila telah dimiliki oleh bangsa Indonesia, dan telah melekat pada bangsa Indonesia. Unsur-unsur tersebut berupa adat-istiadat dan kebudayaan (Notonagoro, 1975).Baru pada tanggal 1 Juni 1945 lahirlah Pancasila (sebagai dasar negara). Pancasila telah ada sejak dahulu kala bersamaan dengan adanya bangsa Indonesia (Pringgodigdo, “Sekitar Pancasila”), karena setiap bangsa mempunyai jiwanya masing-masing/Volkgeist. Dalam hal ini Pancasila merupakan jiwa dari bangsa Indonesia. Pancasila berakar dari kepribadian khas bangsa Indonesia. Mengutip pernyataan Drs. Kaelan dalam bukunya “Pancasila Yuridis Kenegaraan”, Negara Republik Indonesia memang tergolong muda dalam barisan negara-negara di dunia. Tetapi bangsa Indonesia lahir dari sejarah dan kebudayaan yang tua, melalui gemilangya kerajaan Sriwijaya, Majapahit, dan Mataram. Bangsa Indonesia lahir menurut cara dan jalannya sendiri yang merupakan hasil antara proses sejarah di masa lampau, tantangan perjuangan, dan cita-cita hidup di masa yang akan datang.
Jadi, Pancasila bukan lahir secara mendadak pada tahun 1945, melainkan telah berjuang, dengan melihat pengalaman bangsa-bangsa lain, dengan diilhami dengan oleh gagasan-gagasan besar dunia, dengan tetap berakar pada kepribadian bangsa kita dan gagasan besar bangsa kita sendiri. Karena Pancasila sudah merupakan pandangan hidup yang berakar dalam kepribadian bangsa, maka ia diterima sebagai dasar negara yang mengatur hidup ketatanegaraan. Sejarah telah mencatat, kendati bangsa Indonesia pernah memiliki tiga kali pergantian UUD, tetapi rumusan Pancasila tetap berlaku di dalamnya. Hal ini tampak dalam sejarah bahwa meskipun dituangkan dalam rumusan yang agak berbeda, namun dalam 3 buah UUD yang pernah kita miliki yaitu dalam pembukaan UUD 1945, dalam Mukadimah UUD Sementara Republik Indonesia 1950. Pancasila itu tetap tercantum didalamnya, Pancasila yang lalu dikukuhkan dalam kehidupan konstitusional itu, Pancasila yang selalu menjadi pegangan bersama saat-saat terjadi krisis nasional dan ancaman terhadap eksistensi bangsa kita, merupakan bukti sejarah sebagai dasar kerohanian negar, dikehendaki oleh bangsa Indonesia karena sebenarnya ia telah tertanam dalam kalbunya rakyat. Oleh karena itu, ia juga merupakan dasar yang mamapu mempersatukan seluruh rakyat Indonesia.
Dasar negara kita berakar pada sifat-sifat dan cita-cita hidup bangsa Indonesia, Pancasila adalah penjelmaan dari kepribadian bangsa Indonesia, yang hidup di tanah air kita sejak dahulu hingga sekarang. Pancasila mengandung unsur-unsur yang luhur yang tidak hanya memuaskan bangsa Indonesia sebagai dasar negara, tetapi juga dapat diterima oleh bangsa-bangsa lain sebagai dasar hidupnya. Pancasila bersifat universal dan akan mempengaruhi hidup dan kehidupan bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia secara kekal dan abadi.
Pancasila Sebagai Jiwa Dan Kepribadian Bangsa Indonesia
Menurut Dewan Perancang Nasional, yang dimaksudkan dengan kepribadian Indonesia ialah : Keseluruhan ciri-ciri khas bangsa Indonesia, yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lainnya. Keseluruhan ciri-ciri khas bangsa Indonesia adalah pencerminan dari garis pertumbuhan dan perkembangan bangsa Indonesia sepanjang masa.
Garis pertumbuhan dan perkembangan bangsa Indonesia yang ditentukan oleh kehidupan budi bangsa Indonesia dan dipengaruhi oleh tempat, lingkungan dan suasana waktu sepanjang masa. Walaupun bangsa Indonesia sejak dahulu kala bergaul dengan berbagai peradaban kebudayaan bangsa lain (Hindu, Tiongkok, Portugis, Spanyol, Belanda dan lain-lain) namun kepribadian bangsa Indonesia tetap hidup dan berkembang. Mungkin di sana-sini, misalnya di daerah-daerah tertentu atau masyarakat kota kepribadian itu dapat dipengaruhi oleh unsur-unsur asing, namun pada dasarnya bangsa Indonesia tetap hidup dalam kepribadiannya sendiri. Bangsa Indonesia secara jelas dapat dibedakan dari bangsa-bangsa lain. Apabila kita memperhatikan tiap sila dari Pancasila, maka akan tampak dengan jelas bahwa tiap sila Pancasila itu adalah pencerminan dari bangsa kita.
Oleh karena itu yang penting adalah bagaimana kita memahami, menghayati dan mengamalkan Pancasila dalam segala segi kehidupan. Tanpa ini maka Pancasila hanya akan merupakan rangkaian kata-kata indah yang tertulis dalam Pembukaan UUD 1945, yang merupakan perumusan yang beku dan mati, serta tidak mempunyai arti bagi kehidupan bangsa kita.
Jadi pandangan yang mengatakan bahwa lahirnya Pancasila diilhami gagasan-gagasan besar dunia & pengalaman bangsa-bangsa lain dan ada yang mengatakan bahwa Pancasila berakar pada kepribadian bangsa Indonesia sendiri itu tidak saling bertentangan, justru saling berkaitan dalam lahirnya pancasila. Dan Pancasila bukan ideologi gado-gado, melainkan benar-benar berakar pada kepribadian Bangsa Indonesia itu sendiri.

Setiapa bangsa yang ingin berdiri kokoh dan mengetahui dengan jelas ke arah mana tujuan yang ingin dicapainya sangat memerlukan pandangan hidup (filsafata hidup). Dengan pandangan hidup inilah sesuatu bangsa akan memandang persoalan-persoalan yang dihadapinya dan menentukan arah serta cara bagaimana memecahkan persoalan-persoalan tadi. Tanpa memiliki pandangan hidup maka suatu bangsa akan merasa terombang-ambing dalam menghadapi persoalan-persoalan besar yang pasti akan timbul, baik persoalan-persoalan di dalam masyarakatnya sendiri, maupun persoalan-persoalan besar umat manusia dalam pergaulan masyarakat bangsa-bangsa di dunia ini. Dengan pandangan hidup yang jelas sesuatu bangsa akan memiliki pegangan dan pedoman bagaimana ia memecahkan masalah-masalah polotik, ekonomi, sosial dan budaya yang timbul dalam gerak masyarakat yang makin maju. Dengan berpedoman pada pandangan hidup itu pula suatu bangsa akan membangun dirinya. Dalam pergaulan hidup itu terkandung konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan oleh suatu bangsa, terkandung pikiran-pikiran yang terdalam dan gagasan sesuatu bangsa mengenai wujud kehidupan yang dianggap baik. Pada akhirnyta pandangan hidup sesuatu bangsa adalah kristalisasi dari nilai-nilai yang dimiliki suatu bangsa itu sendiri, yang diyakini kebenarannya dan menimbulkan tekad pada bangsa itu untuk mewujudkannya.
Seperti yang ditujukan dalam ketetapan MPR No. II/MPR/1979, maka Pancasila itu adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia, pandangan hidup bangsa Indonesia dan dasar negara kita.
Mengagamakan Pancasila?
Secara sederhana, pendapat yang mengatakan bahwa “menjadikan pancasila sebagai ideologi merupakan sebuah bentuk mengagamakan pancasila” dapat dibantah karena bangsa ini memilki kebebasan untuk menterjemahkan Pancasila itu sendiri, untuk menyederhanakan Ideologi hanya sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila bukanlah agama karena kesederhanaan dan keumuman nilai-nilai yang terdapat di dalamnya, sedangkan agama sangatlah kompleks untuk diterjemahkan dan nilai-nalinya yang bersifat khusus bagi penganutnya, sedangkan pancasila menjadi sebuah nilai-nilai umum yang berlaku bagi seluruh rakyat Indonesia, apapun latar belakang agamanya.
Pancasila berbicara tentang kebaikan, sedangkan agama berbicara tentang kebenaran. Ada kalanya kebaikan menjadi bagian dari kebenaran dan sebagian dari hukum kebenaran itu dapat di-iya-kan oleh nilai-nilai kebaikan itu sendiri. Namun, tetap terdapat bagian dari kebenaran yang tidak dapat tersentuh oleh nilai kebaikan, begitupun sebaliknya, tidak semua nilai kebaikan merupakan kebenaran. Sebagai contoh, memakan daging sapi adalah hal yang baik, terutama pada masa pertumbuhan, namun hal ini tidak dibenarkan dalam ajaran agama Hindu karena mereka melarang umatnya untuk memakan daging sapi.
Beruntungnya, setiap nilai yang terdapat di dalam Pancasila bersifat baik dan benar, sehingga dari segi etis kita bias mencernanya sebagai sebuah kebaikan, sedangkan dari segi keyakinan kita sebagai umat beragama hal itu juga dibenarkan. Secara etis kita meyakini bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang bertuhan, secara agama pun manusia diajarkan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang wajib disembah. Nilai-nilai kesepakatan ini tidak member celah untuk terjadinya pertentangan ketika seseorang menjalankan kedua nilai tersebut, yaitu Pancasila sebagai norma berbangsa dan bernegara guna mencapai sebuah kemakmuran dalam sebuah kemajemukan, dan Agama sebagai sebuah pilihan hidup yang jauh lebih kompleks menuju kesejahteraan dunia dan kehidupan setelahnya. Pancasila justru memberikan hak sepenuhnya kepada masyarakat untuk memeluk agama yang dipilihnya. Agama juga bisa menjadi bahasa yang menghubungkan antar umat beragama di Indonesia karena nilai-nilainya yang dibenarkan oleh semua agama di Indonesia, yang selanjutnya dapat dijalankan bersamaan tanpa pertentangan.
Negara kita memang bukanlah negara agama, tetapi juga tidak begitu saja menjadi negara sekular yang memisahkan agama dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Bertuhan bukanlah ciri khas sebuah agama, melainkan bagian dari kepribadian bangsa ini.

SUMBER

http://arbip.blogspot.com/2010/04/manusia-dan-pandangan-hidup.html
http://bang-isal.blogspot.com/2010/04/kenapa-harus-pancasila.html
http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/message/66127
http://mu-jalin.blogspot.com/2010/04/fungsi-utama-filsafat-pancasila-bagi.html
http://nettihutagalung.blogspot.com/2009/11/pancasila-sebagai-ideologi-terbuka.html
http://nulisonline.wordpress.com/2009/09/25/agama-dan-ideologi/#more-52
http://www.anakciremai.com/2008/09/makalah-ppkn-tentang-landasan.html
http://www.indorating.com/view.php?pg=2009/05/07052009/1499
http://www.google.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s