Sumpah Pemuda dan Sumpah Palapa

Posted: October 18, 2010 in Assignments

Sumpah Pemuda
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Djakarta, 28 Oktober 1928

Teks Soempah Pemoeda dibacakan pada waktu Kongres Pemoeda yang diadakan di
Waltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 – 28 Oktober 1928.
Panitia Kongres Pemoeda terdiri dari :
Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe’oed (Pemoeda Kaoem Betawi)
Peserta : Abdul Muthalib Sangadji, Purnama Wulan, Abdul Rachman, Raden Soeharto, Abu Hanifah, Raden Soekamso, Adnan Kapau Gani, Ramelan, Amir (Dienaren van Indie), Saerun (Keng Po), Anta Permana, Sahardjo, Anwari, Sarbini, Arnold Manonutu, Sarmidi Mangunsarkoro, Assaat, Sartono, Bahder Djohan, S.M. Kartosoewirjo, Dali, Setiawan, Darsa, Sigit (Indonesische Studieclub), Dien Pantouw, Siti Sundari, Djuanda, Sjahpuddin Latif, Dr.Pijper, Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken), Emma Puradiredja, Soejono Djoenoed Poeponegoro, Halim, R.M. Djoko Marsaid, Hamami, Soekamto, Jo Tumbuhan, Soekmono, Joesoepadi, Soekowati (Volksraad), Jos Masdani, Soemanang, Kadir, Soemarto, Karto Menggolo, Soenario (PAPI & INPO), Kasman Singodimedjo, Soerjadi, Koentjoro Poerbopranoto, Soewadji Prawirohardjo, Martakusuma, Soewirjo, Masmoen Rasid, Soeworo, Mohammad Ali Hanafiah, Suhara, Mohammad Nazif, Sujono (Volksraad), Mohammad Roem, Sulaeman, Mohammad Tabrani, Suwarni, Mohammad Tamzil, Tjahija, Muhidin (Pasundan), Van der Plaas (Pemerintah Belanda), Mukarno, Wilopo, Muwardi, Wage Rudolf Soepratman, Nona Tumbel
Catatan :
Sebelum pembacaan teks Soempah Pemoeda diperdengarkan lagu”Indonesia Raya”
gubahan W.R. Soepratman dengan gesekan biolanya.
1. Teks Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 bertempat
di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat sekarang menjadi Museum Sumpah
Pemuda, pada waktu itu adalah milik dari seorang Tionghoa yang bernama Sie
Kong Liong.
2. Golongan Timur Asing Tionghoa yang turut hadir sebagai peninjau
Kongres Pemuda pada waktu pembacaan teks Sumpah Pemuda ada 4 (empat) orang
yaitu :
a. Kwee Thiam Hong
b. Oey Kay Siang
c. John Lauw Tjoan Hok
d. Tjio Djien kwie
Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan, oleh karena itu seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia, proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudia mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi Mengangkat Harkat dan Martabat Hidup Orang Indonesia Asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.
Rumusan Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada sebuah kertas ketika Mr. Sunario, sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin.
Sumpah Palapa
Sumpah Palapa adalah suatu pernyataan/sumpah yang dikemukakan oleh Gajah Mada pada upacara pengangkatannya menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit, tahun 1258 Saka (1336 M).
Sumpah Palapa ini ditemukan pada teks Jawa Pertengahan Pararaton, yang berbunyi,
Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”.
Terjemahannya,
Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, “Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa”.
Dari isi naskah ini dapat diketahui bahwa pada masa diangkatnya Gajah Mada, sebagian wilayah Nusantara yang disebutkan pada sumpahnya belum dikuasai Majapahit.
Hikmah Sumpah Palapa

Sekarang makin terasa bahwa Sumpah Palapa yang dideklarasikan oleh Gajah Mada sungguh sangat sakti, suci, dan membawa berkah bagi kita rakyat dan bangsa Indonesia. Sakti, karena secara gaib nama Nusantara masih bisa dipakai sebagai tali pengikat di antara bangsa-bangsa yang mendiami kepulauan Nusantara. Padahal arti Nusanatara yang sesungguhnya adalah pulau-pulau lain di luar Jawa (Nusa berarti pulau, antara berarti lainnya). Suci dalam arti sumpah tersebut benar-benar diberkahi oleh Tuhan Yang Maha Esa, artinya sumpah tersebut diberi kekuatan oleh Tuhan, berupa kekuatan persatuan dan kesatuan. Secara spiritual Nusantara harus diterima sebagai karunia Tuhan, yang walaupun di antara pulau-pulau terpisah satu sama lainnya oleh lautan, namun rasa kesatuan dan persatuan tetap terbentuk secara utuh menyeluruh.

Perbedaan Sumpah Pemuda dan Sumpah Palapa
A. Karakteristik Tokoh 1331 dan 1928
Karakter tokoh pada tahun 1331 cenderung kasar dan semena-mena. Hal ini terlihat dari cara petinggi Kerajaan Majapahit menaklukan kerajaan-kerajaan lainnya yang terkesan otoriter. Sebagai contoh ketika kerajaan-kerajaan di nusantara telah takluk kepada Kerajaan Majapahit kecuali Kerajaan Padjajaran yang terletak di Jawa Barat. Untuk menaklukkannuya Gajah Mada bersiasat untuk menikahkan Hayam Wuruk dengan putri Raja Padjajaran yang bernama Dyah Pitaloka (Citaresmi). Akan tetapi, baru sampai Raja Padjajaran baru menyerahkan Dyah Pitalokauntuk dipinang sebagai tanda takluk terjadi kesalahpahaman. Sehingga terjadilah pertempuran sengit di Bubat yang dimenangkan oleh Kerajaan Majapahit. Melihat hal tersebut Raja Padjajaran merasa malu hingga akhirnya bunuh diri. Meskipun begitu tokoh pada tahun tersebut mempunyai rasa nasionalisme yang yang sangat tinggi. Semangat mereka selalu berkobar selalu. Mereka selalu berusaha untuk maju menjadi yang terbaik. Dan mereka selalu mengejar obsesi yang jua selalu dapat mereka capai. Hal ini terlihat dari upaya-upaya yang mereka dalam menaklukan kerajaan-kerajaan lain di nusantara, meskipun mereka menghalalkan segala cara untuk menyatukan nusantara. Selain itu, tokoh 1331 sangat setia dan konsekwen pada sumpah dan selalu sujud kepada yang dijunjungnya. Hal ini terlihat dari keberhasilan Kerajaan Majapahit menaklukkan hampir seluruh kerajaan di nusantara.
Sedangkan karakter tokoh pada tahun 1928 lebih halus dan selalu mementingkan kepentingan bersama. Mereka selalu sama-sama enak, sama-sama susah. Ketika ada suatu kalangan yang membutuhkan bantuan, dengan senang hati mereka akan saling membantu. Selain itu mereka selalu mengambil kebutusan secara bersama-sama yakni melalui musyawarah yang menuju mufakat. Hal ini mereka lakukan untuk lebih mengentalkan rasa persatuan dan kesatuan mereka. Jiwa nasionalisme juga terlihat dari semangat mereka yang berapi-api. Mereka mempunyai kemauan untuk bersatu dalam satu kesatuan. Mereka selalu menyerukan suara kemerdekaan. Dan yang terpenting mereka setia pada sumpah yang telah mereka ucapkan, hal ini terlihat pada akhirnya seleruh rakyat Indonesia yang kemudian membawa Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan. Kemerdekaan yang Indonesia raih tidak lain berkat upaya para pemuda Indonesia.
B. Makna Sumpah Palapa dan Sumpah Pemuda
Sumpah Palapa dan Sumpah Pemuda mempunyai makna yang sama yakni persatuan dan kesatuan. Hal ini telihat dari isi kedua sumpah tersebut. Sumpah Palapa yang berbunyi “Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa”, atau dalam dalam bahasa Indonesia kurang lebih “Aku tidak akan makan buah palapa sebelum daerah di seluruh nusantara dipersatukan di bawah kekuasaan Majapahit” maknanya kurang lebih adalah Gajah Mada tidak akan pernah menyentuh dan merasakan kenikmatan duniawi sebelum Gajah Mada dapat menyatukan seluruh nusantara di bawah panji Kerajaan Majapahit. Dari kata menyatukan dapat disimpilkan bahawa Gajah Mada menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan di bumi nusantara melalui Sumpah Palapa. Selain itu juga tersirat rasa cinta tanah air yang dicerminkan dengan persatuan bangsa. Sedangkan bunyi Sumpah Pemuda “Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia” maknanya kurang lebih sama dengan apa yang telah dikumandangkan oleh Gajah Mada pada Sumpah Palapanya. Pemuda Indonesia mengakui adanya persatuan dan kesatuan pada diri mereka, pada jiwa mereka. Inilah yang kemudian membawa Indonesia kedalam persatuan.
C. Tujuan Sumpah Palapa dan Sumpah Pemuda
Sumpah Palapa yang dikumandangkan oleh Gajah Mada dan Sumpah Pemuda yang dikumandangkan oleh para Pemuda Indonesia atas dasar tujuan tertentu. Sumpah Palapa yang berbunyi “Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa” mempunyai tujuan yaitu ingin mempersatukan seluruh kerajaan-kerajaan di nusantara di bawah panji Kerajaan Majapahit, untuk memperkuat pertahanan nusantara, dan yang terpenting untuk menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa. “Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia”, isi dari sumpah pemuda yang dikumandangkan pada 28 Oktober 1928 di di Gedung Oost Java Bioscoop bertujuan untuk menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang sebelumnya masih bersifat sangat kedaerahan. Selain itu sumpah setia ini bertujuan untuk mempersatukan pemuda-pemuda di seluruh tanah air.
D. Cara Pencapaian Tujuan Sumpah Palapa dan Sumpah Pemuda
Cara pencapaian tujuan Sumpah Palapa adalah dengan menaklukan seluruh nusantara baik secara halus maupun kasar. Cara halus yang dimaksud adalah dengan menikahkan Hayam Wuruk dengan putri-putri raja dari kerajaan yang dimaksud. Meskipun pada akhirnya berujung peperangan. Sedangkan yang cara kasar dengan merebut kerajaan yang dimaksud dengan perang. Kerajaan Majapahit cenderung menanamkan faham fasistik yaitu menguasai seluruh nusantara hanya dengan jalan penaklukan. Sebagai contoh ketika kerajaan-kerajaan di nusantara telah takluk kepada Kerajaan Majapahit kecuali Kerajaan Padjajaran yang terletak di Jawa Barat. Untuk menaklukkannuya Gajah Mada bersiasat untuk menikahkan Hayam Wuruk dengan putri Raja Padjajaran yang bernama Dyah Pitaloka (Citaresmi). Akan tetapi, baru sampai Raja Padjajaran baru menyerahkan Dyah Pitalokauntuk dipinang sebagai tanda takluk terjadi kesalahpahaman. Sehingga terjadilah pertempuran sengit di Bubat yang dimenangkan oleh Kerajaan Majapahit. Melihat hal tersebut Raja Padjajaran merasa malu hingga akhirnya bunuh diri. Walaupun pada akhirnya seluruh kerajaan di nusantara dapat ditaklukan oleh Kerajaan Majapahit.
Sumpah Pemuda juga mempunyai cara tersendiri untuk mencapai tujuannya. Cara pencapaiannya dengan mengelar kampanye-kampanye yang menyerukan dan menyebarluaskan semangat nasioalisme untuk lepas dari penjajah (merdeka) melalui berbagai media massa baik cetak maupun elektronik. Selain itu Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia juga mengeluarkan emosi yang menyerukan agar para pemuda memperkuat persatuan untuk mencapai Indonesia merdeka. Cara lain yang ditempuh oleh para pemuda adalah dengan memajukan organisasi-organisasi yang dulunya telah terbentuk Budi Utomo misalnya. Semula Budi Utomo beranggotakan putra putri Jawa dan Madura saja. Tahun 1931 BU mengubah anggaran dasarnya yakni setiap putra dan putri Indonesia dapat menjadi anggota Budi Utomo. Ini menunjukkan bahwa Budi Utomo semakin meningkatkan jiwa persatuan dan kebangsaan. Karena terdorong oleh rasa persatuan dan kebangsaan, Sarikat Islam (SI) mengganti namanya menjadi Partai Sarikat Islam Indonesia. Selain itu juga banyak organisasi-organisasi yang mengelar konggres besar seperti Konggres Wanita Indonesia I yang berlangsung di Yogyakarta pada tanggal 22 Desember 1928. Konggres tersebut dihadiri oleh wakil-wakil perkumpulan wanita, diantaranya Wanita Utama, Putri Indonesia, Wanita Mulya, Aysiah, Serikat Islam bagian wanita dan lain-lain. Konggres tersebut memutuskan untuk membentuk gabungan semua perkumpulan wanita dengan nama Perikatan Perempuan Indonesia. Lahirnya Sumpah Pemuda dengan pernyataan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan memunculkan wadah baru di Indonesia yakni Angkatan Pujangga Baru. Wadah inilah yang menjaring kegiatan di bidang bahasa dan sastra Indonesia.
E. Sumpah Palapa dan Sumpah Pemuda dalam Konteks Cinta Tanah Air
Sumpah Palapa yang dikumandangkan oleh Gajah Mada adalah sumpah setia kepada Kerajan Majapahit.Begitu cintanya Gajah Mada pada bumi nusantara memaksa Gajah Mada untuk mengumandangkan Sumpah Palapa. Gajah Mada menggiginkan persatuan di tanah airnya meskipun dengan cara yang terkesan otoriter dengan tidak mengurangi kecintaannya kepada tanah air. Sumpah tersebut mempertaruhkan nama besarnya untuk menyatukan seluruh nusantara di bawah panji Kerajaan Majapahit. Selain itu Gajah Mada juga mempertaruhkan kenikmatan duniawi dan istirahatnya demi persatuan nusantara. Sumpah pemuda adalah hari keramat bagi bangsa Indonesia.
Sumpah Pemuda adalah salah satu dari berbagai landasan utama bagi kebangkitan nasional. Sumpah Pemuda telah mendorong semangat persatuan dan kebangsaan (nasionalisme) bangsa Indonesia. Ketika beraneka-ragam kecenderungan permusuhan dan perpecahan mulai nampak membahayakan, Sumpah Pemuda lahir. Setelah dikumandangkannya Sumpah Pemuda, hampir seluruh rakyat Indonesia bersemangat untuk lepas dari belenggu penjajahan. Mereka menginginkan kemerdekaan negerinya. Ini mereka lakukan karena tidak ingin negerinya terus menerus terinjak-injak oleh bangsa asing. Mereka mempertaruhkan seluruh jiwa dan raganya demi kemerdekaan tanah air Indonesia.
F. Jiwa Sumpah Palapa dalam Batang Tubuh Sumpah Pemuda
Secara tidak langsung ternyata sebagian kecil dari jiwa Sumpah Palapa menjiwai Sumpah Pemuda. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya kesamaan antara Sumpah Palapa dan Sumpah Pemuda dalam berbagai hal. Dari uraian tersebut dapat dilihat bahwa kedua sumpah ini merupakan sumpah setia. Tujuan dari Sumpah Palapa tidak lain untuk menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan seluruh elemen bangsa di nusantara telah merasuk dirumusan Sumpah Pemuda. Hampir seluruh isi Sumpah Palapa bermakna sama yakni persatuan dan kesatuan bangsa. Semangat Gajah Mada dalam mempersatukan seluruh nusantara telah merasuki jiwa para pemuda 1928. Para pemuda mempunyai semangat yang berapi-api dalam menumbuhkan rasa persatuan dan kebangsaan para pemuda. Perjuangan para pemuda Indonesia dalam melepaskan tanah air Indonesia tidak jauh beda dengan perjuangan Gajah Mada sewaktu menyatukan seluruh nusantara di bawah Kerajaan Majapahit. Isi Sumpah Palapa dan Sumpah Pemuda yang menyatakan kecintaannya kepada tanah air membuat tidak ada jarak. Hal tersebutlah yang membuat jiwa Sumpah Palapa merasuk di jiwa Sumpah Pemuda.
Dua sumpah ini—Sumpah Palapa dan Sumpah Pemuda—adalah dua tekad untuk membuat Indonesia menjadi satu, tapi dengan perbedaan yang signifikan.
Sumpah Pemuda mengawali niat untuk menjadikan Indonesia Satu tak dimulai dengan kekuasaan, tapi rasa ke-satu-an yang diliputi cinta, yaitu cinta tanah air, bangsa dan bahasa.

Sumpah Palapa, mengawali niat untuk menjadikan Nusantara Satu dengan ambisi politik yang kental, karena satunya Nusantara dalam rangka menguatkan kekuasaan.

Gajah Mada

Gajah Mada (wafat k. 1364) adalah seorang panglima perang dan tokoh yang sangat berpengaruh pada zaman kerajaan Majapahit. Menurut berbagai sumber mitologi, kitab, dan prasasti dari zaman Jawa Kuno, ia memulai kariernya tahun 1313, dan semakin menanjak setelah peristiwa pemberontakan Ra Kuti pada masa pemerintahan Sri Jayanagara, yang mengangkatnya sebagai Patih. Ia menjadi Mahapatih (Menteri Besar) pada masa Ratu Tribhuwanatunggadewi, dan kemudian sebagai Amangkubhumi (Perdana Menteri) yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya.
Gajah Mada terkenal dengan sumpahnya, yaitu Sumpah Palapa, yang tercatat di dalam Pararaton. Ia menyatakan tidak akan memakan palapasebelum berhasil menyatukan Nusantara. Meskipun ia adalah salah satu tokoh sentral saat itu, sangat sedikit catatan-catatan sejarah yang ditemukan mengenai dirinya. Wajah sesungguhnya dari tokoh Gajah Mada, saat ini masih controversial. Pada masa sekarang, Indonesia telah menetapkan Gajah Mada sebagai salah satu Pahlawan Nasional dan merupakan simbol nasionalisme dan persatuan Nusantara.
Tidak ada informasi dalam sumber sejarah yang tersedia saat pada awal kehidupannya, kecuali bahwa ia dilahirkan sebagai seorang biasa yang naik dalam awal kariernya menjadi Begelen atau setingkat kepala pasukan Bhayangkara pada Raja Jayanagara (1309-1328) terdapat sumber yang mengatakan bahwa Gajah Mada bernama lahir Mada sedangkan nama Gajah Mada kemungkinan merupakan nama sejak menjabat sebagai patih.
Dalam pupuh Désawarnana atau Nāgarakṛtāgama karya Prapanca yang ditemukan saat penyerangan Istana Tjakranagara di Pulau Lombok pada tahun1894 terdapat informasi bahwa Gajah Mada merupakan patih dari Kerajaan Daha dan kemudian menjadi patih dari Kerajaan Daha dan Kerajaan Janggala yang membuatnya kemudian masuk kedalam strata sosial elitis pada saat itu dan Gajah Mada digambarkan pula sebagai “seorang yang mengesankan, berbicara dengan tajam atau tegas, jujur dan tulus ikhlas serta berpikiran sehat.
Menurut Pararaton, Gajah Mada sebagai komandan pasukan khusus Bhayangkara berhasil memadamkan Pemberontakan Ra Kuti, dan menyelamatkan Prabu Jayanagara (1309-1328) putra Raden Wijaya dari Dara Petak. Selanjutnya di tahun 1319 ia diangkat sebagai Patih Kahuripan, dan dua tahun kemudian ia diangkat sebagai Patih Kediri.
Pada tahun 1329, Patih Majapahit yakni Aryo Tadah (Mpu Krewes) ingin mengundurkan diri dari jabatannya. Dan menunjuk Patih Gajah Mada dari Kediri sebagai penggantinya. Patih Gajah Mada sendiri tak langsung menyetujui, tetapi ia ingin membuat jasa dahulu pada Majapahit dengan menaklukkan Keta dan Sadeng yang saat itu sedang memberontak terhadap Majapahit. Keta dan Sadeng pun akhirnya dapat ditaklukan. Akhirnya, pada tahun 1334, Gajah Mada diangkat menjadi Mahapatihsecara resmi oleh Ratu Tribhuwanatunggadewi (1328-1351) yang waktu itu telah memerintah Majapahit setelah terbunuhnya Jayanagara.
Disebutkan dalam Kakawin Nagarakretagama bahwa sekembalinya Hayam Wuruk dari upacara keagamaan di Simping, ia menjumpai bahwa Gajah Mada telah sakit. Gajah Mada disebutkan meninggal dunia pada tahun 1286 Saka atau 1364 Masehi.
Tidak ada satu pun orang yang dapat mengungkap misteri asal-usulnya bahkan tentang akhir hidupnya. Bukan saja tentang asal-usul dan kematiannya, tentang strategi politik menuju posisi puncak di Majapahit serta strategi perangnya menguasai Nusantara juga masih menyimpan banyak misteri yang tak terjawab hingga kini.
Tidak ada satu sumber pun yang dapat dijadikan rujukan untuk mengetahui asal Gajah Mada dan siapa orang tuanya. Para sejarawan bersilang pendapat tentang asal usulnya. Ada yang menyebut Gajah Mada berasal dari Sumatera, tepatnya dari Minangkabau dengan asumsi bahwa kata Mada itu di Minangkabau berarti bandel, sementara di Jawa tidak ada kata Mada dalam kosa kata bahasanya.
Selain itu gelar Gajah juga diambil dari asal nama binatang yang berada di pulau andalas itu. Asumsi ini diperkuat dengan kedekatan hubungan antara Gajah Mada dan Adityawarman (pendiri kerajaan Pagaruyung), seorang pangeran Majapahit berdarah Sumatera, kemungkinan Adityawarman lah yang membawa Gajah Mada ke Majapahit.
Namun sebagian lainnya menyebut Gajah Mada berasal dari Bali. Masyarakat Bali mempercayai cerita turun temurun yang menyebut bahwa ibu sang patih ini berasal dari Bali. Ada juga yang memperkirakan Gajah Mada berasal dari suku Dayak Krio di Kalimantan Barat, merujuk dari kisah nenek moyang suku Krio tentang seorang Panglima besar dayak bernama Panglima Jaga Mada yang diutus ke Jawa Dwipa untuk menguasai tanah Jawa.
Kemudian ada juga yang menyebut bahwa Gajah Mada itu berasal dari Mongol. Diperkirakan dia adalah salah satu pimpinan pasukan Mongol yang tertinggal. Ketika itu Raden Wijaya (pendiri Majapahit) mengalahkan pasukannya yang berniat menyerang Raja Kertanegara karena telah melecehkan Mongol dengan memotong telingan Meng Khi (utusan Mongol).
Misteri yang luar biasa adalah tidak diketahuinya secara pasti bagaimana rupa Gajah Mada sampai saat ini. Penemuan terakota pipi tembeb di Trowulan yang disebut-sebut sebagai perwujudan wajah Gajah Mada sampai saat ini juga belum terbukti.
Rupa Gajah Mada yang kita kenal sekarang ini juga menjadi polemik dan kontroversi karena sebagian orang menyebut bahwa penggambaran rupa Gajah Mada itu hanya rekaan Moh.Yamin pengarang buku “Gajah Mada Pahlawan Nusantara”. Lihat saja wajah Gajah Mada dan bandingkan dengan wajah Moh.Yamin, sangat mirip. Jadi kemungkinan besar rupa itu hanya rekaan Moh.Yamin yang menjelmakan wajahnya sebagai Gajah Mada.
Kita mengetahui awal kisah kariernya menuju posisi Mahapati berawal sebagai prajurit pengawal raja (bhayangkara). Dikisahkan Gajah Mada hanya seorang bekel bhayangkara pada masa pemerintahan Raja Jayanegara. Kemudian terjadi pemberontakan para Dharmaputra pimpinan Ra Kuti yang berhasil menguasai kerajaan.
Gajah Mada berhasil menyelamatkan sang Raja dari para pemberontak. Bahkan kemudian Gajah Mada berhasil merebut kembali kerajaan, membunuh Ra Kuti dan mengembalikan tahta ke tangan Jayanegara. Ini juga menjadi misteri, bagaimana cara seorang bekel bhayangkara mampu memukul kembali para pemberontak yang sedemikian kuat hingga bisa menguasai kerajaan. Setelah berhasil mendudukan kembali Jayanegara sebagai Raja, Gajah Mada kemudian diangkat menjadi patih di Daha dengan Raja Dyah Gitarja (adik tiri Jayanegara).
Kematian Jayanegara yang dibunuh oleh Ra Tanca juga menjadi misteri tentang Gajah Mada. Dengan matinya Jayanegara, Dyah Gitarja kemudian naik menjadi Raja bergelar Tribhuana Tunggadewi. Ini menimbulkan desas-desus bahwa pembunuhan Jayanegara memang telah direncanakan Gajah Mada sebelumnya dengan memakai tangan Ra Tanca, mengingat Gajah Mada lebih dekat dengan Dyah Gitarja ketika di Daha dan kematian Jayanegara menguntungkan bagi Gitarja. Selain itu, ketika Ra Tanca membunuh Jayanegara, tabib itu langsung dibunuh oleh Gajah Mada tanpa dihadapkan ke muka sidang pengadilan. Setelah Gitarja menjadi Raja, kemudian Mahapatih Arya Tadah memberikan jabatannya kepada Gajah Mada. Konspirasi ini dirasa mirip dengan konspirasi peralihan kekuasaan di zaman Indonesia modern (baca: konspirasi tahun 65).
Masa pemerintahan Hayam Wuruk menjadi masa-masa keemasaan Majapahit dibawah pemerintahan Gajah Mada. Posisi Gajah Mada sebagai Mahapatih, jabatan tertinggi setelah Raja secara otomatis memberinya kekuasaan yang sangat luas mengingat Raja hanya sebagai lambang negara sementara Mahapatihlah yang memegang pucuk pemerintahan dan militer. Ketika itu Majapahit telah menguasai Nusantara, dari Semenanjung Malaya, Tumasik (Singapura), Swarnadwipa, Sambas, Brunei, Bali, Lombok hingga Siam. Untuk menguasai negeri-negeri maritim ini Gajah Mada membangun armada perang yang luar biasa kuat dibawah pimpinan Laksamana Nala. Tapi sampai saat ini bagaimana kebesaran armada dan bagaimana strategi perang sang Mahapatih tidak kita ketahui detail.

SUMBER

http://annabelle.aumars.perso.sfr.fr/Dengan%20Sumpah%20Pemuda.htm

http://id.wikipedia.org/wiki/Gajah_Mada

http://id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_Palapa

http://id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_Pemuda

http://masalimaruf.blogspot.com/2010/01/peran-persatuan-indonesia-dalam.html

http://rajaagam.wordpress.com/2010/08/23/mahapatih-gajah-mada-berasal-dari-minangkabau/

http://sumpahpemuda.org/

http://tiyokuncoro.wordpress.com/2010/03/12/dari-sumpah-palapa-ke-sumpah-pemuda/

http://trulyislam.blogspot.com/2009/01/sumpah-palapa-cikal-bakal-nkri.html

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s